Oleh Subaidi Pratama S.Ikom
Dewan Pertimbangan Komunitas Malam Raboan
Meratapi fenomena aksi teror di jalan Sarinah, Thamrin Jakarta. Sebaiknya tidak usa larut dalam duka panjang hingga menyebabkan psikologis bangsa dianggap kerdil oleh kelompok teror yang akan terus memangsa kita. Cukup dengan doa dan tetap berusaha waspada. Meskipun dalih demikian tidak sepenuhnya membuat diri bangsa tangguh, kita harus mengamini himbauan Jokowi, bahwa dalam kejadian ini kita tidak boleh kalah, kita harus berani melawan mereka. Setidaknya, sikap mental kita perlu ditunjukkan ke muka umum sebagai bentuk perlawanan. Kejahatan wajib dimusnahkan, dan tidak boleh kita biarkan tindakan-tindakan tak berperikemanusiaan yang lebih busuk dari binatang.
...
Sampai berita-berita aksi teror itu terus ditayangkan, hingga terjangkau langit dan bumi, para pakar pengamat pun masih menduga-duga siapakah akar dalangnya. Saya tak habis pikir bertanya-tanya. Sebenarnya apakah yang para kaum biadab itu inginkan. Selain legitimet kekuasaan, bukan? Tetapi, toh sebenarnya para kaum biadab tetaplah terkutuk dan tidak layak mendapat kekuasaan fiddunya wal akhirah, sampai tetek-bengek anak cucut-cicit mereka. Itu hanyalah bentuk akibat parsialisme keimanan mereka yang kemudian ditunjukkan dengan cara-cara radikalisme-anarkis. Sehingga kata Nikris Rifiansya, "Diperbudak pikirannya sendiri". Dan meminjam argumen Mawardi Stiawan, "Itulah mereka yang merasa dekat dengan Tuhannya, tetapi sebenarnya jauh dari perintah baiknya."
...
Mengingat aksi teror tersebut, kalau kita tilik statemen orang Madura, teror adalah cerminan bagi orang-orang penakut-pengecut, yang tidak akan pernah mampu membuat kita lemah. Bahkan, justru kita tertawa atas aksi kelucuannya. Maksud saya, lucu memaknai paradigmanya yang menganggap surga sebagai upah selepas melakukan teror lalu bunuh diri dalam keadaan gembira, segirang-girangnya. Pada insiden ini juga, kita harus mengutuk mereka agar lenyap di muka dunia. "Dari pada putih mata lebih baik putih tulang". Begitu orang Madura mengatakan, sebagai unjuk sikap keberanian ketika diri dinjak-dihina tak habis-habisnya. Dan aksi teroris ini menurut pandangan Faidy Doankz, "adalah penghinaan terhadap NKRI". Kita harus melawannya, agar tidak membabibuta di negeri kita tercinta. Kalau saudara kita satu orang terluka oleh aksi biadapnya, minimal penegak aparat keamanaan Negara harus bisa menangkap pelakunya hingga sampai ke dalang-dalangnya. Atau jika terpaksa bunuhlah mereka.
....
Mengingat Manifes yang menyatakan, "Musuh kita bukanlah manusia, karena kita... manusia. Tetapi musuh kita adalah unsur-unsur yang membelenggu manusia". Ia mungkin salahsatunya adalah pengaruh radikalisme dan terorisme yang terjadi Kamis, kemarin di Jakarta.
...
Sebelum khotbah Jum'at ini saya akhiri. Mari kita tertawakan aksi kelucuan mereka, dengan kalimat-kalimat yang lucu pula sebagaimanaLatif Fianto Nugroho, menulis dalam sebuah judul esai kecilnya. Yang dikutip dari penggalan puisi Syarifuddin Arifin, begini bunyi kalimat lucunya. "Bom Itu Tidak Meledak, Tapi Masih Menggantung Di Dadamu, Sayang." Mari, Mari kita teriakkan kalimat lucu itu, sembari waspada diri dan berharap aparat keamanan bersiaga agar tidak terjadi lagi aksi lucu mereka yang ke dua kali.
Ditulis oleh: Unknown,
Pada : 20.47
Artikel Terkait :

Ada 0 komentar untuk Statemen Orang Madura Tentang Teror Jakarta
Posting Komentar